Jakarta, Tamasya – Kota Yogyakarta selalu membuat para wisatawan merasa kangen karena masyarakatnya yang ramah dan suasananya yang kental dengan budaya dan tradisi. Bicara tentang kota Yogyakarta, kamu pasti pernah mendengar tentang pohon beringin kembar yang ada di Alun-alun Gunung Kidul.

Pohon beringin kembar yang ada di Alun-alun Gunung Kidul ini ternyata cukup melegenda karena memiliki mitos. Mitos yang selama ini beredar adalah jika bisa melewati kedua pohon beringin ini dengan mata tertutup, maka permohonanmu akan terwujud.

Tapi, tahukah kamu kalau ternyata ada 4 mitos terkait pohon yang identik dengan aura mistis tersebut? Jika belum tahu, coba simak kisah tentang pohon beringin kembar yang terkenal di Kota Pelajar berikut ini!

  1. Pohon Beringin Kembar Dikaitkan dengan Pernikahan Putri Sultan Hamengkubuwono I

Mitos yang pertama tentang pohon beringin kembar adalah kisah pernikahan Putri Sultan Hamengkubuwono I. Konon, sang putri dijodohkan oleh sultan dengan pria pilihannya. Namun sang putri merasa tidak sreg dengan pria pilihan sultan tersebut. Kemudian ia mencari cara agar batal menikah dengan pria tersebut. Sang putri pun mengajukan syarat kepada pria jika ingin menikahinya. Si pria diminta untuk melewati kedua pohon beringin tersebut dari pendopo menuju bagian utara Alun-alun Gunung Kidul, kemudian berjalan lagi melewati kedua pohon beringin tersebut menuju bagian selatan Alun-alun Gunung Kidul dalam keadaan mata tertutup.

Syarat tersebut tentu bukan hal yang mudah dan sang pria pun gagal memenuhi syarat.

Melihat kejadian ini, sang sultan mengatakan bahwa hanya pemuda yang berhati tulus dan bersih yang bisa memenuhi syarat dari putri serta berhak untuk menikahinya. Setelah ada beberapa pria yang mencoba, akhirnya seorang pria asal Siliwangi mampu memenuhi syarat tersebut kemudian menikahi sang putri. Pria tersebut dipercaya memiliki hati yang baik dan mencintai sang putri dengan tulus.

  1. Alun-alun Gunung Kidul Merupakan Tempat Latihan Prajurit Keraton

Pada zaman dahulu, Alun-alun Gunung Kidul merupakan tempat latihan prajurit keraton. Latihan tersebut meliputi ketangkasan berkuda (setonan), lomba memanah sambil bersila (manahan), dan adu harimau (rampok harimau). Konon, latihan tersebut tepatnya dilakukan di antara kedua pohon beringin.

Selain berlatih ketangkasan, para prajurit keraton ini juga sering melakukan tradisi masangin. Tradisi masangin adalah tradisi topo bisu yang dilakukan setiap malam 1 suro. Kegiatan yang dilakukan dalam tradisi masangin ini adalah mengelilingi benteng tanpa mengucapkan satu kata pun, suasananya sangat hening. Para prajurit menggunakan pakaian adat Jawa dan berbaris dengan rapi saat melakukan tradisi ini. Mereka berjalan beriringan dari halaman keraton menuju pelataran Alun-alun Gunung Kidul melalui celah di antara 2 pohon beringin tersebut.

Tradisi masangin merupakan simbol permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk melindungi kota Yogyakarta dari serangan musuh yang bisa menghancurkan Keraton Yogyakarta. Hingga saat ini, sejumlah warga lokal masih ada yang melakukan tradisi masangin ini untuk memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, kalau kamu menemukan orang yang sedang melakukan tradisi masangin ini, jangan diganggu ya.

  1. Permohonan Terkabul Jika Berhasil Melewati Celah Antara Pohon Beringin Kembar

Mitos yang satu ini merupakan mitos yang cukup populer di kalangan masyarakat. Mitos bahwa permohonan akan dikabulkan jika berhasil melewati celah di antara 2 pohon beringin dengan mata tertutup ini ternyata merupakan turunan dari tradisi masangin yang kerap dilakukan pada malam 1 suro untuk memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Para wisatawan akan menutup kedua mata menggunakan kain hitam, lalu berjalan ke arah pohon beringin. Agar tidak terjatuh atau menabrak, biasanya ada teman yang menjaga dari belakang tapi tidak boleh membantu untuk mencari jalan ke celah pohon beringin kembar tersebut.

Apakah kamu percaya mitos tersebut dan berminat untuk mencobanya saat berlibur ke Yogyakarta nanti? Jika tidak percaya, tidak apa. Kamu tetap bisa berkunjung ke Alun-alun Gunung Kidul untuk bersantai menikmati suasana kota Yogyakarta yang mempesona.

  1. Pintu Gerbang Laut Selatan

Mitos yang terakhir adalah mitos yang mengatakan bahwa kedua pohon beringin ini merupakan pintu gerbang menuju Laut Selatan atau Segoro Kidul yang dikuasai oleh Nyi Roro Kidul. Mitos terkait pohon beringin kembar di Alun-alun Gunung Kidul ini mulai muncul pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VI. Menurut warga setempat, Keraton Yogyakarta ini memiliki hubungan spesial dengan Nyi Roro Kidul. Mereka percaya setiap orang yang berniat melakukan tindakan jahat terhadap Keraton Yogyakarta akan kehilangan kekuatan atau kesaktian selamanya setelah melewati celah di antara kedua pohon beringin ini.

Itulah 4 mitos terkait dengan pohon beringin kembar di Alun-alun Gunung Kidul. Apakah kamu mempercayai keempat mitos tersebut?

 

1356

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here